Kamis, 18 April 2013

TEORI BELAJAR KOGNITIFISTIK



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Belajar adalah proses seseorang memperoleh ber­bagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak masa kecil ketika bayi mem­peroleh sejumlah keterampilan seder­hana, seperti memegang botol susu dan me­ngenal ibunya. Selama masa kanak-kanak dan masa remaja, diperoleh sejumlah sikap, nilai, dan ke­terampilan hubungan sosial, demikian pula di­peroleh kecakapan dalam berbagai mata ajaran sekolah. Ketika usia dewasa, seseorang di­harapkan telah mahir mengerjakan tugas atau pekerjaan tertentu dan keterampilan-keteram­pilan fungsi­onal yang lain.
Pembelajaran didefinisikan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam definisi ini terkandung makna bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, serta mengembangkan metode ataupun strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, bahkan kegiatan-kegiatan inilah yang sebenar­nya merupakan kegiatan inti pembelajaran.
Salah satu kegiatan manusia adalah belajar. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang ber­proses dan juga merupakan unsur yang paling funda­mental dalam setiap penyeleng-garaan jenis dan jenjang pendidikan atau pem­be­la­jaran. Dalam hal ini berhasil atau gagalnya pen­capaian tujuan pendidikan itu berarti sangat ter­gantung pada proses belajar yang dialami oleh pembelajar, baik ketika ia berada dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan rumah atau keluarganya.
Karena demikian pentingnya arti belajar, se­bagian besar riset dan eksperimen psikologi pendidikan diarahkan kepada tercapainya pe­mahaman yang lebih luas dan mendalam me­ngenai proses perubahan manusia. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manu­sia secara bebas dapat mengeksplorasi, me­milih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Dengan demikian yang selanjutnya akan dibahas tentang teori belajar kognitif dan penjabaran menurut beberapa pakar dalam pembelajaran.





B.      Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari teori belajar kognitif?
2.    Apa pendapat tentang teori belajar kognitif menurut beberapa ahli?
3.    Bagaimana aplikasi teori belajar kognif dalam kegiatan pembelajaran?
4.    Apa sajakah kelebihan dan kekurangan dari teori belajar kognitif?

C.      Tujuan
1.    Mengetahui dan memahami pengertian dari teori belajar kognitif
2.    Mengetahui dan memahami pendapat tentang teori belajar kognitif menurut beberapa ahli
3.    Mengetahui bagaimana aplikasi teori belajar kognif dalam kegiatan pembelajaran
4.    Mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan dari teori belajar kognitif















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Teori Belajar Kognitif
Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri.[1] Bagi yang menganut aliran kognitivistik, belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari itu, belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun di dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. [2]
Prinsip kognitif banyak dipakai di dunia pendidikan, kususnya terkihat pada perencanaan suatu sistem instruksional, prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut.
1.    Sesorang yang beajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuat apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.
2.    Penyusunan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
3.    Belajar dengan memahami kan jauh lebih baik dari pada dengan hanya menghafal tanpa pengertian penyajian.[3]
Ciri-ciri Aliran Kognitivisme[4]
·      Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
·      Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
·      Mementingkn peranan kognitif
·      Mementingkan kondisi waktu sekarang
·      Mementingkan pembentukan struktur kognitif

B.   Teori Belajar Menurut Beberapa Pakar
ü Piaget
Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang. Bagi piaget, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
1.    Asimilasi
Proses pengintgrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Contoh : seorang siswa yang mengetahui prinsip-prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dipahami oleh anak) dengan prinsip perkalian(informasi baru yang akan dipahami anak).
2.    Akomodasi
Proses penyesuaian antara struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Penerapan proses perkalian dalam situasi yang lebih spesifik. Contohnya : siswa ditelah mengetahui prinsip perkalian dan gurunya memberikan sebuah soal perkalian.
3.    Equilibrasi
Proses penyeimbang agar siswa dapat terus berkembang dan menambah ilmunya. Tetapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan roses penyeimbang. Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur, sedangkan dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi yang diterima dengan urutan yang baik, jernih, dan logis.[5]
Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi 4 yaitu:
a.     Tahap sensiomotor (umur 0-2 tahun)
Pada tahap ini, seorang anak belajar mengembangkan dan mengatur kegiatan fisik dan mental menjadi rangkaian perbuatan yang bermakna.[6] Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi lngkah.
b.    Tahap pra-operasional (umur 2-7 tahun)
Seorang anak masih sangat dipengaruhi oleh hal-hal kusus yang didapat dari pengalaman menggunakan indra sehingga ia belum mamp untuk melihat hubungan-hubungan dan menyimpilkan sesuatu secara konsisten.
c.Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Seorang anak dapat membuat kesimpulan dari sesuatu pada situasi nyata atau dengan menggunakan benda konkret, dan mampu mempertimbangkan dua aspek dari situasi nyata secara bersama-sama (misalnya, antara bentuk dan ukuran)
d.    Tahap operasional formal (11 tahun keatas)
Kegiatan kognitif seorang tidak mesti menggunakan benda nyata. Pada tahap ini kemampuan menalar secara abstrak meningkat sehingga seseorang mampu berfikir secara deduktif, pada tahap ini pula, seseorang mampu mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu situasi secara bersama-sama.

Didalam pikiran seseorang, sudah terdapat struktur kognitif atau kerangka kognitif yang disebut skema. Setiap orang akan selalu berusaha mencari suatu keseimbangan, kesesuaian, atau ekuilibrium antara apa yang baru dialami (pengalaman barunya) dan apa yang ada pada struktur kognitifnya. Jika pengalaman barunya cocok atau sesuai dengan yang tersimpan pada kerangka kognitifnya, proses asimilasi dapat terjadi dengan mudah, dan keseimbangan ekuilibrium tidak terganggu. Dan jika sebaliknya, ketidakseimbangan akan terjadi, dan anak akan berusaha menyeimbangkannya lagi. Dengan demikian, diperlukan proses akomodasi.[7]

ü  Bruner
Bruner mengusulkan teorinya yang disebut Free Discovery Learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjlan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan suatu aturan (konsep, teori, definisi dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya. Dengan kata lain, siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep kejujuran, misalnya, siswa pertama-tama tidak menghafal definisi kata kejujuran, tetapi mempelajari contoh-contoh konkret tentang kejujuran. Dari contoh-contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata “kejujuran”.[8]
Selain itu Bruner mengemukakan perlu adanya teori pembelajaran yang menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas. Menurut Bruner (Uno, 2008: 13), teori belajar bersifat deskriptif sedangakan teori pembelajaran preskriptif. Misalnya, teori belajar memprediksi berapa usia maksimum untuk anak belajar penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran meguraikan bagaimana cara-cara megajarkan penjumlahan.


Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu sebagai berikut.
1.    Tahap Enaktif
Seseorang melakukan aktifitas-aktifitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya.
2.    Tahap Ikonik
Suatu tahap pembelajaran ketika materi pembelajaran yang bersifat abstrak, dipelajari siswa dengan meggunakan ikon, gambar, atau diagram yang menggambarkan kegiatan nyata dengan benda-benda konkret.
3.    Tahap Simbolik
Seseorang telah mampu memiliki ide-ide abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.[9]

ü David Ausubel
Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
a)  Memperhatikan stimulus yang diberikan
b)  Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu : Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari. Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.[10]
Dalam proses belajar mengajar, seorang peng­ajar dapat menerapkan prinsip belajar ber­makna oleh Ausubel, melalui langkah-langkah sebagai beri­kut. Pertama, mengukur kesiapan mahasiswa (minat, kemampuan, struktur kog­nisi) melalui tes awal, interview, review, per­tanyaan dll. Ke­dua, memilih materi, mengatur­nya dan me­nyajikan konsep-konsep inti, di­mulai dari contoh konkrit dan contoh kon­tro­versial. Ke­tiga, meng­identifikasi prinsip-prinsip yang harus di­ketahui dari materi baru dan me­nyajikan suatu pan­dangan menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari. Keempat, memakai advance organi­zers; agar pembelajar dapat memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan yang ada.[11]

Ketiga tokoh aliran kognitif diatas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut piaget hanya dengan mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu, Bruner lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktifitas melakukan Discovery. Cara demikian akan mengarahkan siswa pada bentuk belajar induktif, yang menuntut banyak dilakukan pengulangan. Hal ini tercermin dari model kurikulum spiral yang dilakukannya. Selain itu Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banayak menekankan cara pada cara berfikir deduktif. Hal ini yampak dari konsepsinya mengenai Advancer Organizer sebagai kerangka konseptual tentang isi pelajaran yang akan dipelajari siswa.

C.   Aplikasi Teori Kognitif dalm Pembelajaran
Aplikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.
1)  Guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berfikirnya
2)  Guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks
3)  Guru menciptakan pembelajaran yang bermakna
4)  Guru memperhatikan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.[12]

D.  Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Kognitivistik
1)  Kelebihan
ü  Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri
ü  Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah
2)  Kekurangan
ü  Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan
ü  Sulit dipraktekkan, khususnya ditingkat lanjut
ü  Beberapa prinsip, seperti inteligensi, sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.[13]


























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah  perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Diantara pakar-pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu, Piaget, Bruner, Ausubel. Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.


[1] Margaret bell, et al., belajar dan membelajarkan, seri pustaka pendidikan  no:11 (universitas terbuka bekerja sama dengan rajawali, 1991),
[2] Muhammad Thorboni, Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan Praktek Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet 1, Hlm. 95
[3] http://dian75.wordpress.com/teori-behavioritisme-kognitif-dan-kontruktivisme-serta-implikasi-ketiga-teori-tersebut-dalam-pembelajaran/
[5] Muhammad Thorboni, Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan Praktek Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet 1, Hlm. 95-96
[6] Ibid, Hlm. 96
[7] Opcit Thorboni, Hlm. 96-97
[8] Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd. orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), Cet 1, Hlm. 12-13
[9] Muhammad Thorboni, Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan Praktek Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet 1, Hlm. 99-100
[12] Muhammad Thorboni, Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan Praktek Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet 1, Hlm. 102
[13] Ibid, Hlm. 105

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar