Jumat, 26 April 2013

AKHLAQ MAHMUDAH



BAB II
PEMBAHASAN
            Akhlak adalah perilaku lisan, perbuatan fisik, dan bahkan perbuatan diam juga termasuk dalam kategori akhlak. Akhlak terpuji adalah perilaku baik yang dimiliki seorang manusia. Akhlak terpuji merupakan bentuk implementasi dari keimanan manusia. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah. Bentuk dari akhlak terpuji, antara lain : Tawadhu’, Qana’ah, Taat, dan Sabar.
2.1 TAWADHU’
2.2.1 Pengertian Tawadhu’
            Tawadhu’ adalah rendah hati.[1] Selain itu, Tawadhu’ kepada Allah SWT adalah sikap merendahkan diri terhadap ketentuan-ketentuan Allah SWT. Pada diri Rasulullah SAW banyak sekali sikap tawadhu’ sikap tawadhu’ yang beliau lakukan.[2]
Contoh:
1.      Dalam suatu riwayat dikisahkan, bahwa pada waktu Nabi Muhammad SAW menunaikan ibadah haji, beliau menunggu seekor unta jantan yang sangat sederhana. Unta itu tidak dilengkapi pelana yang serba mewah dan indah sebagaimana dilakukan oleh raja-raja, melainkan hanya terhampar sehelai permadani yang tipis. Di atas unta itu beliau berdoa,”Ya Allah jadikanlah ibadah hajiku ini suatu ibadah yang tidak mengandung riya, takabur, dan angkuh”.[3]
2.      Anas menceritakan sebagai berikut :”Tiap orang yang membisikkan sesuatu kepadanya (Nabi), beliau selalu merendahkan kepalanya dan mendekatkan telinganya untuk mendengarkan bisikan orang tersebut dengan penuh perhatian. Dan setiap orang menjabat tangannya, beliau tidak melepaskan genggaman tangannya sebelum orang itu melepaskannya.[4]
Dari contoh satu dan dua kita dapat gunakan sebagai acuan bagaimana cara bertawadhu baik dalam ibadah maupun kegiatan social. Dari contoh pertama hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa dalam beribadah selayaknya kita harus melaksanakannya dengan dilandasi sikap tawadhu’ karena hal itu berdampak pada kesucian ibadah yang imbasnya dapat kita rasakan dengan kenikmatan batin, sebab kenikmatan itu dapat kita rasakan jikalau hati kita terhindar dari sikap riya atau pamer yang ingin kita tonjolkan kepada orang lain. Dari contoh kedua, kita dapat menyimpulkan bahwa hubungan antar sesama manusia juga harus dilandasi sifat tawadhu’ sebab dengan sifat tersebut akan hilang rasa perbedaan yang dikarenakan jabatan atau kekayaan yang menimbulkan kecemburuan social yang biasa terjadi. 
            Sikap tawadhu’ merupakan sebuah sikap pengakuan seorang, hamba bahwa segala sesuatu di dunia ini semuanya hanya milik Allah semata sehingga kita sebagai seorang hamba tidak patut terlalu membangga-banggakan apa yang telah Ia titipkan, sebab sikap jelek yang seperti inilah yang nantinya membawa kita dalam kelalaian mengucap syukur terhadap apa yang telah di titipkan.
Untuk memiliki dan mengembangkan sifat tawaddu' memang tidak mudah. Perlu pembiasaan secara bertahap. Ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan untuk melatih munculnya sifat tawaddu', antara lain sebagai berikut :
1.Mengenal Allah
       Dengan mengenal Allah beserta sifat-sifatnya, maka akan muncul kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan kecil. Begitu kuasa, kaya, dan besamya Allah. Oleh karena itu tidaklah pantas bagi manusia untuk menyombongkan diri.
 “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan Kati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl : 78)
2.Mengenal diri
       Dilihat dari asal usulnya. manusia berasal dari setetes air mani yang hina. Kemudian manusia lahir ke dunia tanpa daya dan tidak mengetahui apapun.
3. Mengenal kekurangan diri
       Seseorang dapat terjebak pada kesombongan bila  ia tidak menyadari kekurangan yang ada pada dirinya. Botch jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan. padahal ia justru melakukan kerusakan dan aniaya. Oleh karena itu setiap muslim hams selalu melakukan introspeksi diri sebelum melakukan, saat melakukan, dan sesudah melakukan sesuatu. Hal itu  dilakukan setiap muslim agar sadar akan kekurangan dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawaddu' dan tidak sombong kepada orang lain.
4. Merenungkan nikmat Allah
       Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba--Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak di antara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga mereka membanggakan dan menyombongkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.
       Semua manusia pada hakekatnya diciptakan sama.  la berasal dari bahan  yang sama dan keturunan yang satu. yaitu Adam dan Hawa. Tidak ada kelebihan antara satu dengan yang lainnya dihadapan Allah SWT, kecuali derajat ketakwaannya. Memang benar di dunia ini manusia terbagi alam dua golongan sifat yang saling berlawanan: ada yang kaya ada pula yang miskin, ada yang pintar ada pula yang bodoh, ada yang normal ada pula yang cacat. ada yang tinggi ada pula yang pendek. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena memang merupakan ketentuan Allah (sunnatullah). Sikap tawadhu'-lah yang berfungsi untuk menyamakan dua golongan sifat itu pada satu derajat dan satu kedudukan, sehingga tidak ada lagi yang merasa lebih tinggi ataupun lebih rendah ketimbang lainnya
2.2.2 Dalil-dalil tentang Anjuran Bersifat Tawadhu’
       Sikap tawadhu’ sangat penting dalam pergaulan sesama manusia, Islam memberikan tuntunan kepada umatnya untuk memiliki sikap tawadhu’, dan menjauhi sikap takabur kepada siapapun. Allah berfirman :
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkan pada mereka perkataan yang baik.”(QS. An-Nisa : 8)
Bahkan dalam beramal pun kita dianjurkan untuk berlaku tawadhu dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan serta membiasakan berkata yang baik kepada orang-orang di sekeliling kita.
 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syura : 215)
       Ayat di atas, pada dasarnya ditujukan kepada Rasulullah SAW, agar bersikap tawadhu’ kepada umatnya, sungguhpun demikan, perintah tersebut juga berlaku bagi seluruh umat Islam. Hendaknya kaum muslimin selalu bersikap tawadhu’ kepada siapapun.
            Selain itu, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (HR. Muslim).
Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.
2.2.3        Keutamaan Tawadhu’
            Dengan memiliki sikap tawadhu’, seseorang akan lebih mengerti bagaimana nikmat yang sesungguhnya yang telah Ia berikan sehingga ia akan selalu berucap syukur dan tidak menyombongkan apa yang telah diberikan. Menimbulkan rasa simpati pihak lain sehingga suka bergaul dengan dirinya. Sehingga dapat mempererat tali silaturrahmi dan mengakrabkan pergaulan. Dan Allah SWT akan menghormati orang yang tawadhu’ (rendah diri) mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Untuk menumbuhkan sikap tawadhu’ dalam diri kita, perhatikan hal-hal berikut ini![5]
1.      Hendaklah kita sadar akan kejadian manusia.
2.      Kita harus sadar pula, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, hidup yang terakhir dan kekal ada di akhirat.
3.      Kita harus berusaha memahami ajaran Islam dengan benar.
4.      Hindarilah sikap sombong, takabur, bermegah-megahan, dan iri hati.
5.      Bersyukurlah terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT.
2.2 QANA’AH
2.2.1 Pengertian Qana’ah
Dari segi bahasa, qana’ah berarti rela atau merasa puas.[6]Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Dalam istilah bahasa Indonesia, qana’ah adalah kaya hati. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tenteram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak.
Sebaliknya, orang yang tidak bersifat qana’ah akan selalu diliputi oleh keserakahan. Misalnya, seorang pejabat yang tidak qana’ah, meskipun gajinya besar namun karena hatinya miskin, ia masih saja melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
2.2.2 Dalil-dalil tentang Anjuran Bersifat Qana’ah
       Abdullah bin Amru r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda[7] :“Sungguh beruntung orang yang masuk Islamdan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang diberikan Allah SWT kepadanya (bersifat qana’ah dan tidak tamak).” (HR. Muslim)
Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda[8] : “Bukankah kaya itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kaya yang sebenarnya ialah kaya hati (nerimo).” (HR. Bukhari-Muslim)
2.2.3 Keutamaan Qana’ah
Orang yang qona’ah akan senantiasa merasa tenteram dan merasa berkecukupan terhadap apa yang dimilikinya selama ini. Karena meyakini bahwa pada hakikatnya kekayaan ataupun kemiskinan tidak diukur dari banyak dan sedikitnya harta. Akan tetapi, terletak kepada kelapangan hatinya untuk menerima dan mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah SWT.
Pentingnya qana’ah dalam hidup adalah menjadikan kita manusia yang tidak mudah berputus asa, selalu maju, dan tidak tamak. Dengan qana’ah kita seakan-akan mempunyai filter dalam hidup kita yang bisa menjadikan manusia yang senantiasa. Qana’ah juga berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial.
2.2.4 Contoh Perilaku Qana’ah
Ketika Nabi Muhammad shalallahu `alaihi wa sallam menikah kan Fatimah radiallahu `anha dengan Ali bin Abi Thalib radiallahu `anhu, beliau mengundang Abu Bakar, Umar dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah Radiallahu ‘Anha.
Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam untuk putri terkasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak, kendi, dan sebuah piring.
Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad shalallahu `alaihi wa sallam pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”
Fatimah radiallahu `anha, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.
Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya,dan menangis dengan matanya. Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah.
Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.
Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri.
Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.
Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya.
Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.
Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi.
Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qanaah,yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah”.
2.2.5 Manfaat Qana’ah dalam Kehidupan
                   Sifat qana’ah merupakan kepribadian yang patut dimiliki oleh setiap muslim. Karena dengan memilikinya, seseorang akan merasa tenang, ridak rakus, dan akan selalu bersyukur kepada Allah swt. Sifat qana’ah akan membimbing seseorang untuk memenuhi hal-hal yang dianggap perlu saja. Ia tidak  akan hidup berlebihan dan menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak perlu. Manfaatnya, antara lain :
a.       Penyeimbang hidup
Muslim yang qana’ah tidak akan terlalu gembira jika mendapat anugerah, kenikmatan, kesuksesan, popularitas, atau jabatan. Ia akan menyadari bahwa segala yang diperolehnya berasal dari Allah swt. Ia jugatidak akan putus asa atau frustasi jika kehilangan sesuatu yang ia senangi dan banggakan.
b.      Penggerak hidup
Muslim yang qana’ah akan memiliki kecerdasan emosional yang memungkinkannya meraih cita-cita dan kemenangan baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dengna melihat manfaat ini, kita memahami bahwa qana’ah bukan berarti berdiam diri, berpangku tangan, serta malas bekerja, melainkan sikap positif dalam menghadapi berbagai peluang dan tantangan kehidupan. Sejak dulu, Rasulullah telah mengingatkan :
“Sesungguhnya allah menguji hamba-Nya dengan nikmat yang diberikan kepadanya. Jika ia rela dengan pemberian Allah Azza wa Jalla, Allah akan memberkahi dan melapangkannya, jika tidak, Allah tidak akan memberkahinya.” (HR. Ahmad).
2.3 TAAT
2.2.1 Pengertian Taat
Taat berarti tunduk dan patuh untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Sifat taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan ini sangat diperlukan dalam kehidupan beragama, dalam keluarga, bermasayarakat,  maupun bernegara. Dalam beragama seseorang diperintahkan untuk taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya, denganmelaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang taat akan tetap melaksanakan shalat dalam keadaan sesibuk apapun, orang yang taat juga tetap menjalankan puasa walaupun merasakan lapar dan dahaga. Orang yang taat juga senang berzakat dan berderma walaupun kalau dihitung secaramatematis hartanya berkurang, namun dia meyakini bahwa pada hakikatnya harta itu tidak berkurang karena Allah SWT akan memberikan balasan yang lebih banyak.  
2.2.2 Dalil-dalil tentang Anjuran Bersifat Taat
 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa : 59)
       Dari Ibnu Umar r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda : “ Wajib bagi seorang muslim mendengarkan dan taat sesuai dengan yang disukai dan apabila diperintah untuk menjalankan maksiat jangan dengarkan dan jangan taati “. ( Hr. Muslim ).
2.2.4        Keutamaan Taat
Keutamaan taat kepada Allah ialah kemudahan atas segala apa yang ia limpahkan kepada kita baik di akhirat maupun di dunia. Sifat taat ini juga secara tidak langsung akan meringankan hati kita dalam menjalankan perintah-Nya.
2.2.4 Contoh Perilaku Taat
Di dalam berkeluarga maka seluruh anggota keluarga harus taat kepada tatanan keluarga, suami bertanggung jawab menafkahi dan menyayangi anak istrinya.Istri taat kepada suami dan menjaga harta serta mendidik anak-anaknya dengan baik, anak taat dan patuh kepada kedua orang tuanya. Sikap taat dalam kehidupan berkeluarga juga dapat diwujudkan dengan menjalankan tugas di lingkungan keluarga dengan baik. Jika seluruh anggota keluarga menerapkan sikap taat, maka akan terwujud keluarga yang bahagia dan tenteram atau sakinah.
Penerapan sifat taat dalam kehidupan bermasyarakat adalah dengan mematuhi peraturan dan menjaga ketertiban di lingkungan masyarakat. Jika seluruh anggota masyarakat menerapkan sifat taat maka akan tercipta lingkungan yang aman, tenteram dan damai. Suasana semacam ini akan membuat seluruh anggota masyarakat merasakannya.
Demikan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap warga negara harus taat kepada pemerintah dan aturan-aturan yang berlaku. Dengan demikian tujuan utama Allah SWT memerintahkan kita agar menjadi orang yang taat adalah agar tercipta keidupan di dunia yang tenteram, damai, aman, dan membahagiakan. Sebaliknya jika saja seluruh manusia tidak memiliiki sifat taat, maka akan terjadi ketidakteraturan dan kerusakan.  
2.4 SABAR                                              
2.2.1 Pengertian Sabar
Sabar adalah kemampuan menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan.[9] Sabar juga diartikan sebagai sikap tabah hati baik dalam mendapatkan suatu yang tidak disenangi atau kehilangan sesuatu yang disenangi. Sabar berbeda dengan pasrah. Letak perbedaannya terdapat pada usaha. Pasrah ialah sikap menyerah tanpa adanya usaha sedikitpun, sedangkan sabar diiringi adanya usaha. Kesabaran adalah sikap tahan uji, tabah, ulet, tekun, dan tidak mudah putus asa ketika mendapatkan ujian atau kesusahan.Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.
2.2.2 Dalil-dalil tentang Anjuran Bersifat Sabar
“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153).
Ayat di atas menjelaskan bahwa kita dianjurkan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong kita. Ada pula yang mengartikan, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
2.2.3 Macam-macam Sabar
       Selama ini, kita memahami kesabaran selalu identik dengan kesusahan. Padahal tidak, kesabaran tidak selalu identik dengna kesusahan. Kesabaran harus kita miliki dalam semua aktivitas kita. Berikut ini adalah macam-macam kesabaran dalam berbagai aktivitasnya[10] :
a.       Sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Dalam menjalankan perintah Allah SWT, kita juga harus memiliki kesabaran. Contohnya, sabar bangun di waktu subuh melawan rasa kantuk dan air yang dingin demi melaksanakan shalat subuh. Selain itu, bersabar dalam menjalankan perintah puasa Ramadhan, selama kurang lebih 30 hari seorang muslim yang telah baligh dan berakal menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa.
Sabar dalam menanggung beratnya melaksanakan kewajiban.
Misalnya, kewajiban menjalankan shalat lima waktu, kewajiban membayar zakat, kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Bagi setiap orang yang sabar, seberat apapun kewajiban itu pasti dilaksanakan, meskipun dalam keadaan melarat, sakit, ataupun dalam kesibukan. Semuanya tetap dilakukan dengan patuh dan ikhlas. Dan orang yang sabar dalam melaksanakan kewajiban itu artinya mereka mendapat taufik dan hidayah Allah SWT.

Allah SWT berfirman :
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya...”(QS. Thaahaa : 132).

b.      Sabar salam menghindari perbuatan dosa/maksiat (menahan hawa nafsu)
Selain itu, kita juga harus memiliki sifat sabar dalam menahan hawa nafsu dan menghindari kemaksiatan.  Manusia adalah makhluk yang memiliki keinginan, yaitu keinginan baik dan keinginan buruk. Keinginan baik terwujud  dalam amal sholeh. Sedangkan keinginan buruk terwujud dalam perbuatan dosa. Dalam kedua hal ini, manusia harus memiliki kesabaran dalam menjalaninya.
Orang yang menerapkan sabar dalam hal  ini diwujudkan dengan cara mempunyai prinsip dan memegang teguh pendiriannya  untuk tidak goyah terhadap godaan dan rayuan yang menyesatkan.
 “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar Ra’d : 22).
c.       Sabar ketika menghadapi musibah dan cobaan.
Hidup manusia tidak selalu bahagia. Hidup manusia juga terkadang menderita, penuh cobaan, dan ditimpa musibah. Ketika menderita atau ditimpa musibah, manusia seringkali frustasi dan putus asa. Dalam keadaan seperti inilah manusia dituntut tahan uji dan tabah. Sifat tahan uji dan tabah inilah yang disebut dengan sabar.
Sabar dalam menahan penganiayaan dari orang lain. Di dunia ini tidak luput dari kezaliman. Banyak sekali kasus-kasus penganiayaan yang terjadi, terutama menimpa orang-orang yang suka menegakkan keadilan dan kebenaran. Akan tetapi bagi orang yang sabar menahan penganiayaan demi menegakkan keadilan dan kebenaran, pasti mereka termasuk orang-orang yang dicintai Allah SWT.
Sabar dalam menanggung kemiskinan dan kelaparan. Pada saat ini banyak sekali orang- orang yang hidupnya selalu dirundung kemiskinan dan akhrinya mereka berputus asa. Ada yang menerjunkan dirinya ke dunia hitam, menjadi perampok, pencopet, dan pembegal. Ada lagi yang bekerja sebagai pengemis, pengamen dll. Orang-orang seperti ini tidak memiliki sifat yang sabar. Sebaliknya, orang yang sabar menanggung kemiskinan dan kelaparan dengan jalan mencicipi apa adanya dari pembagian Allah serta mensyukurinya, maka di dalam hidupnya selalu dilimpahi kemuliaan dari Allah SWT.
Sabar dalam menanggung musibah atau cobaan. Bagi setiap orang yang sabar dalam menanggung musibah ataupun cobaan dan disertai dengan tawakal kepada Allah, pasti kebahagiaan terbuka lebar bagi mereka. Dan mereka pasti akan mendapatkan pahala dari Allah. Allah SWT berfirman :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".  Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah : 155-157)
Kesabaran itu tidak bisa dipaksakan begitu saja dalam pribadi seseorang, melainkan ada tiga faktor yang mempengaruhi, yaitu sebagai berikut:
1.    Syaja’ah atau keberanian, yaitu seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada keberanian menerima musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Seorang pengecut sukar di dapatkan sikap sabar dan berani.
2.    Al- Quwwah  atau kekuatan, yaitu seseorang dapat bersabar terhadap segala sesuatu jika dalam dirinya cukup tersimpan sejumlah kekuatan. Dari orang yang lemah kepribadiannya sukar diharapkan kesabarannya menghadapi sesuatu.
3.    Sadar dalam mengerjakan sesuatu. Jika seseorang tahu dan sadar apa yang dilakukan, maka ia akan dapat manfaatnya.

Macam-macam sabar[11]:
·       Shiddiquun:
Ialah orang- orang yang benar lahir dan juga batinnya. Yang termasuk tingkat ini ialah para: Rasul, sahabat beliau, orang shaleh, yaitu orang bersikap patut dan wajar menurut Allah SWT.
·       Muqarrabuun:
Ialah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengerjakan semua yang diperintahkanatasnya mengenai bagian lahirnya saja terlihat patuh, tetapi batinnya kadang-kadang tidak patuh. Untuk mendapatkan tingkat ini belum tertutup pintu. Sehingga tiap manusia berhak mencapainya. Tetapi, untuk menjadi Rasul pintunya sudah tertutup dengan telah diutus Nabi Muhammad SAW, karena Beliau Rasul terakhir.
·      Mujahiduun:
Ialah orang berjuang keras melawan hawa nafsunya dan lain-lain, sehingga ia bagaikan orang berperang yaitu berganti-ganti antara kalah dan menang. Manusia tingkat ini banyak dalam masyarakat.
·      Ghafiluun:
Ialah orang yang telah banyak kali kalah dari menang-menentang melawannya, karena akalnya mudah dikalahkan, malahan mungkin ke puncaknya, ialah tidak mau tahu pada Allah SWT sedikitpun, sehingga yang tinggal syahadatnya saja.
2.2.5        Keutamaan Sabar
1.      orang yang sabar akan memperoleh pahala yang sangat besar.[12] Allah berfirman:” Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas .”(QS. Az-Zumar: 10) 
2.       segala dosanya dihapuskan, sebagaimana sabda Nabi SAW:[13] “Tidak ada seorang muslim yang terkena suatu gangguan baik duri atau lebih dari itu, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahannya sebagaimana gugurnya daun dari pohonnya” (HR. Bukhari)
3.       memperoleh balasan berupa surga, dalam hadist qudsi disebutkan: [14]“Apabila Aku menguji seorang hamba-Ku dengan buta kedua matanya, tetapi ternyata ia sabar, Aku akan mengganti dua mata hamba-Ku itu dengan surga.” (HR. Bukhari)
2.2.6        Contoh Perilaku Sabar
Contoh orang yang berperilaku sabar ialah tatkala ia menerima sebuah cobaan yang diberikan Allah SWT ia tidak putus asa olehnya, justru sebaliknya ia akan lebih bertawakal dan menganggap bahwa cobaan itu merupakan langkah awal dinaikkannya derajat orang tersebut oleh Allah SWT.


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari semua penjelasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa akhlak mahmudah merupakan suatu kewajiban yang diturunkan oleh Allah agar dapat digunakan untuk menata kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga dengan akhlak mahmudah seseorang bisa menjalin hubungan langsung dengan Allah maupun menjaga silaturahmi dengan sesama manusia agar terjalin suatu ukhuwah yang kuat.
      


[1] Didik Subroto, LKS Insan Cendekia Akhidah Akhlak VIII Genap, Citra Mentari Malang, p. 25.
[2] Departemen Agama RI, BUKU PELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (MTS Jilid IB), Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, hal 49
[3] Ibid, hal 49-50
[4] Ibid, hal 50
[5] Ibid, hal 52-53
[6] Didik Subroto, LKS Insan Cendekia Akhidah Akhlak VIII Ganjil, Citra Mentari Malang, p. 19.
[7] Mohammad Fadloli, Keutamaan Budi dalam Islam, Al Ikhlas Surabaya,1992, p. 124.
[8] Ibid.hal 123.
[9] Didik Subroto, LKS Insan Cendekia Akhidah Akhlak VIII Ganjil, Citra Mentari Malang, p. 16.
[10]M. Yatimin Abdullah. Studi Akhlak dalam Perspektif al Qur’an. Amzah. Hal 41-42.
[11]H. Kahar Masyhur. Membina moral & akhlak. Rineka cipta. Hal 387-388.
[12] Op.Cit., Departemen Agama RI, BUKU PELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (MTS Jilid IB), Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, hal 58
[13] Ibid. hal 58
[14] Ibid. hal 58

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar