Kamis, 18 April 2013

MODEL PEMBELAJARAN AKTIVE LEARNING(CBSA)



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, di mana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan dalam proses pembelajaran. CBSA/aktive learning, merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikukulum yang berlaku.
            Kita sebagai calon guru, tentunya berkepentingan untuk mengetahui apa dan bagaimana cara belajar siswa aktif itu. Pendidikan saat ini selain hanya memerankan guru sebagai pemegang kendali proses pembelajaran dan menempatkan murid secara pasif, juga hanya menekankan pada aspek penguasaan teori belakang (Knowledge) tanpa mampu menggunakan dan mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Proses pembelajaran yang demikian hanya menghasilkan lulusan yang verbalistis dan pasif.

B.     Rumuan Masalah
1.      Apa itu (pengertian) pembelajaran siswa aktif / aktif learning (CBSA)?
2.      Apa hakekat CBSA itu?
3.      Bagaimana CBSA Dalam Pandangan Islam?
4.      Apa yang dimaksud rasional CBSA?
5.      Apa yang menjadi komponen-komponen (syarat) penting CBSA?
6.      Apakah Tujuan, ruang lingkup dan asas pelaksanaan CBSA dalam KBM?










BAB II
PEMBAHASAN

1.     Pengertian model pembelajaran aktif / aktif learning (CBSA)
            Setiap proses pembelajaran pasti menampakkan keaktifan orang yang belajar atau siswa. Pernyataan ini tidak dapat kita bantah atau kita tolak kebenarannya. Adanya kenyataan ini, menyebabkan sulitnya mendefinisikan pengertian pendekatan CBSA secara tepat, kepastian adanya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, memberikan kepastian kepada kita bahwa pendekatan CBSA bukanlah suatu hal yang dikotomis. Hal ini berarti, setiap peristwa pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dapat dipastikan adanya penerapan pendekatan CBSA dan tidak mungkin terjadi penerapan pendekatan CBSA dalam peristiwa pembelajaran.[1]
            Pengertian CBSA dapat kita telusuri dalam kegiatan belajar-mengajar. Pemahaman terhadap mengajar ditentukan oleh persepsi guru terhadap belajar. Kalau belajar dianggap sebagai usaha untuk memperoleh informasi,maka mengajar adalah memberi informasi. Kalau belajar adalah untuk memperoleh suatu keterampilan,maka mengajar adalah melatih keterampilan. Konsep belajar-mengajar dalam pemahaman seperti itu kurang mendapat tempat bagi CBSA. Seperti telah disebutkan sebelumnya,peserta didik merupakan seorang peneliti yang mengamati lingkungan sekitarnya. Belajar dalam pengertian CBSA ini adalah kegiatan untuk mengolah informasi. Dengan demikian,mengajar adalah usaha untuk mengoptimalkan kegiatan belajar.
            Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan istilah yang bermakna sama dengan Student Aktive Learning (SAL). CBSA bukan disiplin ilmu atau dalam bahasa populer bukan “teori”, melainkan merupakan cara, teknik, atau dengan kata lain disebut “teknologi”.
            Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, CBSA bukanlah hal yang baru. Bahkan dalam teori pengajaran, CBSA merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yang seharusnya. Artinya merupakan tuntutan logis dari hakikat belajar dan hakikat mengajar. Hampir tidak pernah terjadi proses belajar tanpa adanya keaktifan individu atau siswa yang belajar. Ada keaktifan belajar kategori rendah, sedang, dan ada pula kategori tinggi. Dengan demikian, hakikatnya CBSA pada dasarnya adalah cara atau usaha mempertinggi dan mengoptimalkan kegiatan belajar siswa dalam proses pengajaran.
Sebagai konsep, CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang sukjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa CBSA menempatkan siswa sebagai inti dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa dipandang sebagai objek dan sebagai subjek.
Dilihat dari subjek didik, CBSA merupakan proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam rangka belajar. Dilihat dari segi guru atau pengajar, CBSA merupakan bagian strategi mengajar yang menuntut keaktifan optimal subjek didik. Bertitik tolak dari uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu cara strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.
Untuk melihat terwujudnya CBSA dalam proses belajar mengajar, terdapat beberapa indikator CBSA, sehingga dapa dilihat tingkah laku mana yang muncul dalam suatu proses belajar mengajar berdasarkan apa yang dirancang oleh guru. Indikator tersebut dilihat dari lima segi, yaitu:
a.    Dari sudut siswa, dapat dilihat dari:
ü Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan, dan permasalahannya
ü Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses, dan kelanjutan belajar
ü Penampilan berbagai usaha atau keaktifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilan
ü Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut diatas tanpa tekanan guru atau pihak lainnya (kemandirian belajar)

b.    Dilihat dari sudut guru, tampak:
ü Adanya usaha mendorong, membina gairah belajar dan partisipasi siswa secara aktif
ü Peranan guru tidak mendominasi kegiatan proses belajar siswa
ü Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan keadaan masing-masing
ü Guru menggunakan berbagai jenis metode mengajar serta pendekatan multimedia


c.     Dilihat dari segi program, hendaknya:
ü Tujuan intruksional serta konsep maupun isi pelajaran itu sesuai dengan kebutuhan, minat serta kemampuan subjek didik
ü Program cukup jelas dapat dimengerti siswa dan menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar
ü Bahan pelajaran mengandung fakta atau informasi, konsep, prinsip, dan ketrampilan

d.    Dilihat dari situasi belajar, tampak adanya:
ü Iklim hubungan intim dan erat antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan guru, serta dengan unsur pimpinan di sekolah
ü Gairah serta kegembiraan belajar siswa sehingga siswa memiliki motivasi yang kuat serta keleluasaan mengembangkan cara belajar masing-masing

e.    Dilihat dari sarana belajar, tampak adanya:
ü Sumber-sumber belajar bagi siswa
ü Fleksibilitas waktu untuk melakukan kegiatan belajar
ü Dukungan dari berbagai jenis media pengajaran
ü Kegiatan belajar siswa yang tidak terbatas di dalam kelas, tetapi juga diluar kelas
Dengan adanya tanda-tanda diatas, akan lebih mudah bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Setidak-tidaknya memberikan rambu-rambu bagi guru dalam melaksanakan CBSA.[2]
2.     Hakekat CBSA
   Berbagai literatur mengungkapkan bahwa CBSA merupakan pengertian yang sulit dirumuskan secara tegas dan tepat, sebab bagaimanapun “belajar” harus berlangsung dalam bentuk “aktivitas subyek didik” walau dalam “kadar” berbeda-beda.[3]
   Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:
a.        Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan.
b.        Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan.
c.         Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap
Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien. Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar.
   Terdapat sejumlah alasan mengapa pendekatan CBSA perlu dilakukan:
·    Pertama, karena lulusan pendidikan di indonesia saat ini pada umumnya hanya menguasai teori yang belum lengkap. Sedangkan kemampuan untuk menerapkan berbagai teori teori tersebut masih sangat minim. Hal ini terlihat, ketika seorang lulusan diminta untuk bekerja tapi masih belum  dapat melakukannya dengan baik. Tamatan pendidikan tersebut dinilai belum siap pakai (read for use). Untuk itu, ia harus diberi pengalaman untuk melakukan berbagai pekerjaan yang berdasarkan teori tersebut.
·    Kedua, lulusan pendidikan saat ini pada umumnya lebih suka menerima pengetahuan atau informasi yang sudah jadi. Ia tak ubahnya seperti orang yang hanya dapat menikmati hidangan makanan atau minuman, namun tidak dapat mengetahui bagaimana makanan dan minuman itu diproses dan dibuat. Dengan ilustrasi lainnya, seorang lulusan pendidikan sekarang hanya dapat menikmati ikan tangkapan dan olahan orang lain, namun tidak mampu menangkap dan memasak ikan tersebut.
·    Ketiga, lulusan pendidikan saat ini pada umumnya cenderung verbalistis, menghafal dan mengikuti pendapat orang, namun tidak mengetahui cara mengamalkannya dan cara memperolehnya.
·    Keempat, lulusan pendidikan saat ini pada umumnya cenderung pasif dan kurang kreatif. Keadaan ini tidak sejalan dengan era globalisasi yang menuntut manusia yang kreatif, aktif dan menjemput bola, sehingga ia tampil sebagai pemenang dalam pertarungan kehidupan yang kompetitif.
·    Kelima, lulusan pendidikan saat ini umumnya belum terberdayakan seluruh potensi dirinya secara optimal  dan  maksimal. Mereka misalnya, belajar bahasa inggris dari sejak sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi, namun tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris, baik lisan maupun tulisan.
·    Keenam, lulusan pendidikan saat ini umumnya belum memiliki keterampilan dan pengalaman dalam bekerja, sehingga dalam belajar ia hanya mengantongi selembar ijazah, dan ketika mengelamar kerja ia cenderung tidak diterima. Untuk mengatasi hal tersebut, kini sudah ada pendekatan baru yang mengintregrasikan antara kemampuan akademis dan kemampuan praktis empiris. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara belajar sa,bil bekerja. Para siswa atau mahasiswa, hendaknya dapat memanfaatkan waktu luang mdan senggangnya utuk bekerja part-time di berbagai lapangan pekerjaan yang sesuai atau yang mendekati bidang keilmuanya. Dengan cara demikian, ketika ia tamat atau lulus, ia tidak hanya mengantongi selembar ijazah, melainkan juga mengantongi sejumlah pengalaman kerja yang diperkuat dengan sertifikat atau surat keterangan.[4]

3.     CBSA dalam Pandangan Islam
   Dalam pandangan islam, mengingatkan kita kepada ajaran islam yang lebih mendorong seseorang untuk bersikap terbuka, belagar terus menerus dan menjadikan belajar sebagai ibadah. Islam juga melihat antara bahwa antara satu manusia dengan manusia lain adalah guru bagi yang lain. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an misalnya dapat memberikan petunjuk tentang CBSA. Dalam surat al-Baqarah, 2:67
øŒÎ)ur tA$s% 4ÓyqãB ÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9 ¨bÎ) ©!$# ôMä.âßDù'tƒ br& (#qçtr2õs? Zots)t/ ( (#þqä9$s% $tRäÏ­Gs?r& #Yrâèd ( tA$s% èŒqããr& «!$$Î/ ÷br& tbqä.r& z`ÏB šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÏÐÈ  
    Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?"[62] Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".
   Pada ayat tersebut, Nabi Musa as. Sesungguhnya ingin mengadakan sebuah kegiatan pembelajaran kepada pengikutnya dengan perintah menyembelih seekor sapi sebagai tanda bersyukur. Namun, umatnya itu tidak mau mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut, malah menuduh Musa sebagai orang yang akan merugikannya. Karena sikapnya yang demikian itu, maka umat Nabi Musa telah melakukan kebodohan, sehingga datang mereka tidak mendapatkan pelajaran yang terdapat di balik perintah Nabi Musa itu. Dari ayat ini terdapat petunjuk yang utama dalam melaksanakan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA), yaitu adanya hubungan yang baik dan rasa salin percaya antara guru dan murid.
   Prinsip belajar siswa aktif ini selanjutnya dapat dijumpai dalam hadis Rasulullah SAW, sebagai berikut yang artinya
Tidak ada suatu kaum yang berkumpul di sebuah rumah dari rumah Allah (masjid) yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah, dikaji isinya serta diperdalam kandungannya, melainkan kepadanya akan diturunkan ketenangan, ditaburi rahmat, dan dimintakan ampun oleh malaikat (HR. Muslim)
   Dalam hadis tersebut ada tiga buah kegiatan bersama yang dilakukan. Pertama, Tilawah Al-Quran. Kedua, Yu’alimul Quran. Ketiga, Yataddaru (mendalami kandungan ayat tersebut dengan berbagai ilmu bantu lainnya sehingga dapat merumuskan teori, konsep, program, dan desain). Melalui kegiatan tersebut, seseorang akan mendapatkan bekal hidup yang dapat memberikan ketenangan dalam menghadapi kehidupan, dan dari konsep dan teori yang dipraktekkan itu, ia akan merasakan manfaatnya, dan sekaligus mendapatkan restu dan ampunan dari malaikat, karena perbuatan yang demikian itu dianggap sebagai ibadah.
4.      Rasional CBSA
Rasional atau dasar-dasar serta alasan-alasan kebangkitan kembali CBSA sehingga diterapkan dalam KBM, adalah sebagai berikut ini.
a.       Secara esensi tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan manusia yang mampu berdiri sendiri di samping berpartisipasi dalam rangka pembangunan lingkungan, masyarakat dam bangsanya.
Untuk mampu melaksanakan misi ini di dalam dunia yang senantiasa berpacu dan berubah maka setiap warga ma­syarakat secara pribadi harus memiliki kemampuan berfikir kritis, memiliki kemampuan, kemauan serta kebiasaan untuk terus menerus belajar (life long education) dalam arti yang ha­kiki. Sedang sebagai anggota masyarakat mereka harus mam­pu bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama. Di lihat dari dimensi ini maka lembaga pen­didikan formal seharusnya secara optimal memberi peluang bagi peserta didik untuk melaksanakan interaksi edukatif. Jadi bukan sekedar pemberian ilmu pengetahuan atau ketrampilan saja tetapi pembekalan sikap dan nilai untuk menghadapi segala problema di dalam masyarakat yang senantiasa meng­alami perubahan tersebut. CBSA dipandang sebagai salah satu upaya membangkitkan esensi yang terdalam para peserta di­dik, yakni kreativitasnya.
b.      keterlibatan mental psikologi yang optimal dalam KBM dengan cara terjun dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan akan mempunyai nilai “pembangkitan serta peningkatan motivasi” yang optimal di banding KBM yang hanya menggunakan komunikasi satu arah saja (terutama dengan metode komunikasi ceramah saja). Dengan demikian, pengalaman belajar yang mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk be­kerja sendiri, berusaha mencari jawaban atau memecahkan suatu masalah, memberi kesempatan bekerjasama dengan te­man-temannya dalam menyelesaikan tugas akan jauh lebih menantang dalam rangka mengarahkan konsentrasi, pikiran bahkan tenaga daripada mereka sekedar menelan/menerima sesuatu yang telah selesai dikunyah dengan modus komuni­kasi satu arah (pola DDCH). Model mengajar demikian akan lebih meningkatkan sifat ingin tahu (curiocity) serta me­ningkatkan motivasi siswa. Lebih-lebih, motivasi adalah me­rupakan motor penggerak bagi siswa dalam KBM guna men­capai tujuan.[5]
c.       Komunikasi banyak arah dengan pcnggunaan multy-method dan multy-media dalam KBM seperti dikemukakan di atas, akan memberikan manfaat (peluang) bagi guru dalam mem­peroleh balikan dalam menilai efektivitas KBM. Dengan demi­kian, balikan tidak perlu ditunggu sampai harus menyeleng­garakan formatif tes, sumatif tes, Ebta/Ebtanas; akan tetapi se­gera bisa diperoleh sementara KBM masih berjalan. Dengan demikian CBSA memberi landasan yang lebih mantap bagi pelaksanaan penilaian formatif dalam proses belajar meng­ajar.
d.      Akhirnya sebagai rasional yang keempat; ditinjau dari semi ke­butuhan untuk meningkatkan mutu pendidikan dari segi Calon Guru maupun para guru yang masih cenderung menggunakan pola seperti yang diterimanya di Lembaga Pendidikan Kegu­ruan dahulunya, kiranya pola yang telah membudaya dengan metode tunggal "metode ceramah' seyogyanya CBSA ini men­dapat prioritas.[6]
5.     Komponen-komponen (Syarat) Penting CBSA
                Sebagaimana telah diketahui pada bahasan awal bahwa kegiatan belajar aktif itu ialah yang banyak melibatkan elemen lain yang senantiasa akan membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman, aktif, kondusif sehingga terarah.Dari banyak faktor yang senantiasa mesti terlibat dalam pembelajaran agar tercipta belajar yang aktif, kurang lebih secara ringkasnya terbagi:
a.       Individu siswa (sebagai objek) pembelajaran, Dalam hal ini individu seorang murid itu merupakan hal yang paling dasar, sehinga harus benar-benar memiliki motovasi belajar yang kuat untuk ingin dan semangat belajar karena apapun dan sebesar bagaimanapun perhatian (pengaruh) dari luar jika tida didasari dengan semangat dari dalam dirinya siswa itu sendiri maka pembelajaran tidak akan aktif dan jauh kemungkinan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam hal ini faktor keluarga yang memberikan pelajaran utama sebelum di sekolah dan yang mencetak kearah mana diarahkanya seorang anak harus benar-benar faham dan mampu memberikan arahan, bimbingan, dan melayani akan kemauan sang anaknya tersebut.
b.      Guru sebagai dalang (sutra dara), Guru sebagai dalang atau dapat dikatakan sutradara dalam pembelajaran aktif harus dapat menyajikan pelaksanaan proses pembelajaran sebagus dan semenarik mungkin, sehingga seorang guru harus benar-benar propesional dibidangnya itu baik secara kualifikasi mapun secara profesi dimana didalamnya harus faham mengenai psikologi anak, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan profesional seorang guru diantaranya harus mengetahui, metode, strategi, pendekatan, teknik dan taktik, dan yang lainya.
            Dalam pembelajaran ditemukan adanya dua pelaku, guru berinteraksi dengan siswa, yang keduanya mencapai tujuan pembelajaran atau sasaran belajar yang serupa. Kadar CBSA dalam interaksi tersebut berbeda-beda. Raka Joni mengemukakan bahwa pembelajaran yang ber-CBSA baik berciri:
Þ    Pembelajaran berpusat pada siswa.
Þ    Guru bertindak sebagai pembimbing pengalaman belajar.
Þ    Orientasi tujuan pada perkembangan kemampuan siswa secara utuh dan seimbang.
Þ    Pengelolaan pembelajaran menekankan pada kreativitas siswa.
Þ    Pelaksanaan penilaian tertuju pada kegiatan dan kemajuan siswa.
Optimalisasi kadar CBSA tersebut dapat diprogramkan dalam desain instruksional (pesiapan mengajar) guru.[7]
            Pembelajaran ber-CBSA merupakan wujud kegiatan atau unjuk kerja guru. Hampir dapat dikatakan bahwa guru professional diduga berkemampuan mengelola pembelajaran ber-CBSA tinggi.
c.       Proses (suasana) belajar, Proses atau suasana belajar ini berkaitan dengan kemampuan guru menguasai suasana dan memahami keadaan kelas ataupun kondisi murid itu sendiri agar dapat memilah dan memilih metode, media, taktik dan gaya belajar yang memang cocok dengan sussana atau kondisi tersebut. setelahnya faham mengenai hal itu, guru juga harus bisa menjalankannya dengan baik dan menyenangkan mulai dari awal sampai belajar berakhir.
d.      Sarana dan prasarana belajar, Dalam menciptakan kegiatan belajar yang aktif disini diutamakan sarana penunjang untuk kelancaran dan keefektipan belar tercapai, maka sega sesuatu yang memang dibutuhkan haruslah tersedia baik itu yang sifatnya indor ataupun out dor. Namun, jika masalahnya hal tersebut sebagai media yang dibutuhkan tidak ada maka disinilah dibutuhkan akan kekreatifan seorang guru agar dapat mengemas pembelajaran supaya tetap berjalan dengan kondusif dan aktif.

6.     Tujuan, ruang lingkup dan asas pelaksanaan CBSA dalam KBM
                               I.            Tujuan
            CBSA bertujuan untuk memberi kesempatan kepada siswa secara lebih.aktif mengembangkan kemampuan pribadinya dalam hal-hal:
a.       Mempelajari materi atau konsep dengan penuh perhatian.
b.      Mendapatkan pengetahuan dengan cara mengalami dan mela­kukan sendiri.
c.       Merasakan sendiri kegunaan materi yang dipelajarinya, me­ngembangkan rasa ingin tahu dan sifat terbuka, jujur, tekun, disiplin, kreatif terhadap tugas yang diberikan.
d.      Belajar berkelompok untuk menemukan sifat pribadinya serta sifat dan kemampuan temannya.
e.       Memikirkan, mencobakan dan mengembangkan konsep nilai-­nilai tertentu.
f.        Menemukan dan mempelajari gejala/kejadian yang dapat mengembangkan gagasan baru.
g.       Menunjukkan kemampuan mengkomunikasikan cara berfikir yang menghasilkan penemuan baru dan penghayatan nilai baik secara lisan maupun tertulis.
                            II.            Ruang lingkup kegiatan CBSA, meliputi seluruh ranah baik kognitif, afektif maupun psikomotorik secara individual maupun kelompok.
                         III.            Asas pelaksanaan CBSA
a.       Pemberian motivasi
b.      KBM diawali dengan kondisi siswa yang telah siap menerima pelajaran.
c.       Sosialisasi (proses jalinan sosial)
d.      Memperhatikan perbedaan individu siswa.
e.       Belajar sambil bekerja.
f.        Asumsi bahwa semua siswa memiliki potensi dasar untuk menemukan dan mengembangkan potensi dasarnya tersebut.
g.       Kepandaian siswa banyak ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
                CBSA adalah merupakan salah satu pendekatan atau model pembelajaran alternatif yang sejalan dengan paradigma baru proses pembelajaran yang merangsang, menantang, mendorong, dan memotivasi kreatifitas peserta didik. Mereka selain mengetahui berbagai macam teori dan konsep tentang keilmuan, juga dapat mengetahui dan terampil dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut. Mereka bukan hanya dapat memakan ikan, melainkan dapat menangkap ikan tersebut.
                Islam sebagai agama yang saling menghargai, menghormati, kerjasama, tolong-menolong, terbuka, dinamis, dan inovatif sangat menganjurkan dilakukannya pendekatan belajar dengan model CBSA itu. Namun demikian, Islam menghendaki agar dalam prateknya CBSA tetap menjaga sopan santun, tata krama, kesopanan, dan ke-tawaluan pada anak didik. Kemampuan peserta didik dalam menemukan dan memahami berbagai konsep tentang ilmu pengetahuan, diharapkan tidak menyebabkan dia menjadi orang yang pandai dan cerdas, namun kecerdasan dan kepandaiannya itu disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang menimbulkan hal-hal yang merugikan dirinya dan masyarakat sekitarnya.















DAFTAR PUSTAKA

Mudjiono,Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, PT Rineka Cipta. Jakarta
Sudjana, Nana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. PT Sinar Baru, Bandung.
Azhar, Lalu Muhammad, Proses Pola Belajar Mengajajr Pola CBSA. PT Usaha Nasional, Surabaya
Prof. H. Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, kencana, Jakarta
Usman,M. Basyiruddin M.Pd, Motodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Press, Jakarta Selatan


[1] Dr. Dimyati, Drs Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, PT Rineka cipta. Jakarta. Hal 114
[2] Dr. Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. PT Sinar Baru, Bandung. Hal 20
[3] Drs. Lalu Muhammad Azhar. Proses Pola Belajar Mengajar Pola CBSA. PT Usaha Nasional, Surabaya hal 40
[4] Prof. H. Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, kencana, Jakarta, hal 319
[5] Drs. M. Basyiruddin Usman, m.pd, Motodologi Pmbelajaran Agama Islam, ciputat press, Jakarta Selatan, hal 28
[6] Drs. Lalu Muhammad Azhar. Proses Pola Belajar Mengajajr Pola CBSA. PT Usaha Nasional,Surabaya hal 42
[7] Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, PT Rineka Cipta. Jakarta. Hal 154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar