Kamis, 18 April 2013

PERMASALAHAN DALAM PENELITIAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan kita tidak tabu lage dengan masalah penelitian dan prosesnya. Yang dengan hal itu kita bisa memecahkan solusi dalam masalah yang sedang dihadapi. Membicarakan mengenai masalah, kita pastinya tahu bahwasanya dengan adanya masalah inilah kita bisa memproses sebuah penelitian karena jika tidak ada masalah maka kita tidak bisa meneliti sesuatu. Jadi bisa dikatakan bahwa masalah adalah awal dari terbentuknya sebuah penelitian, oleh karena itu sebuah masalah atau permasalahan sangat penting dalam sebuah penelitian.
1.2Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dan Fungsi Masalah dalam Penelitian?
2.      Bagaimana Karakteristik dari Permasalahan Penelitian?
3.      Apa saja Sumber Masalah dalam Penelitian?
4.      Bagaimana Merumuskan Masalah dalam penelitian?
5.      Bagaimana Mengembangkan Gagasan dan Penelitian?
1.3Tujuan
1.      Untuk mengetahui Pengertian dan Fungsi Masalah dalam Penelitian
2.      Untuk mengetahui Pengertian dan Fungsi Masalah dalam Penelitian
3.      Untuk mengetahui Sumber Masalah dalam Penelitian
4.      Untuk mengetahui Merumuskan Masalah dalam penelitian
5.      Untuk mengetahui Mengembangkan Gagasan dan Penelitian






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Fungsi Masalah dalam Penelitian
Masalah atau disebut juga problem adalah suatu penelitian.Proses mencari jawaban dari permasalahan hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan. Sedangkan masalah atau permasalahan dalam penelitian tak terlepaserat kaitanya denga kehidupan sehari-hari dan merupakan suatu yang lumrah terjadi. Namun demikian perlu adanya pemecahan terhadap masalah atau permasalahan tersebut sebagaimana ungkapan berikut:...is a refinement process that begins with the indentification of a problem areaand terminates with one or more testable hypothesis or answerable questions.” (Gay,1981)
Untuk menemukan jawaban suatu permasalahan,peneliti dapat mempergunakan berbagai cara yang sistematis. Variasi-variasi cara penelitian terjadi tidak hanya dalam penelitian dalam bidang yang berbeda-beda,namun bisa juga dalam bidang yang sama, misalnya dalam bidang pendidikan. Bahkan sering pula terjadi dalam permasalahan yang sama pula.(Hadi 1980)
Masalah atau permasalahan ada jika terdapat kesenjangan antara das Sollen dan das Sein. Kesenjangan tersebut meliputi dalam materi,pengetahuan,pendidikan,tegnologi pembelajaran,atau penerapan suatu model-model pembelajaran di lapangan (Gay,1987). Permasalahan dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan oleh peneliti, tetapi karena suatu hal target tidak dapat dicapai. Sesuatu hal yang menyebabkan tidak terjadinya target disebut masalah.
Seperti yang terungkap di atas, permasalahan merupakan suatu pertanyaan yang mengawali suatu kegiatan penelitian, sehingga seseorang ilmuan melakukan serangkaian kegiatan guna memperoleh jawaban dari permasalahan yang sedang dihadapi, dengan melalui suatu aturan- atuuran tertentu yang sistematis, objektif, dan kritis. Proses mencari jawaban dari persoalan itu merupakan penelitian, yang selanjutnya harus diperjelas sumber jawabannya darimana harus diperoleh. Dengan demikian persoalan itu muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu berlangsung.
Dalam mengidentifikasi permasalahan yang benar-benar layak dijadikan  penelitian, sebaiknya permasalah tersebut diklasifikasi terlebih dahulu menjadi permasalahan yang sifatnya merupakan common sense (akal sehat), dan permasalahan yang betul- betul masalah. Permasalahan yang sifatnya common sense biasanya dapat dirasakan hanya terbatas pada perasaan seseorang atau diawali oleh hemat saya, sulit diukur, dan reliabilitas kemunculannya dalam suatu konteks yang rendah. Dengan kata lain, tidak semua orang mengalami yang dirasakan oleh orang lain, dan masalah tersebut penting  artinya bagi penelitian, sebab kunci dari kegiatan penelitian bertolak dari masalah. Masalah yng diselesaikan melalui penelitian mengandung konsekuensi logis bagi setiap kegiatan penelitian, terutama berkaitan dengan penentuan teknik-teknik pendekatan penelitan yang akan digunakan, pengumpul data, analisis data yang kesemuanya itu penting diketahui oleh peneliti semata-mata untuk menghindari adanya pemborosan waktu dalam mengumpulkan data agar terhindar dari data yang kurang relevan dengan permasalahan yang sedang diteliti.
2.2  Karakteristik Permasalahan Penelitian
1.    Permasalahan tersebut biasanya dirasakan oleh orang- orang yang terlibat dalam suatu bidang yang sama
2.    Permasalah tersebut sering muncul dan secara signifikan ditemui oleh orang-orang yang terlibat
3.    Permasalahan tersebut dapat diukur dengan alat ukur penelitian, seperti skala nominal, ordinal, interval, dan rasio
4.    Permasalahan tersebut dapat diteliti, lantaran dapat diungkap kejelannya melalui tindakan koleksi data dan kemudian dianalisis
5.    Permasalahan tersebut memiliki kontribusi signifikan, lantaran memiliki nilai guna dan manfaat baik pada tataran teoritis yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun pada tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari
6.    Permasalahan tersebut didukung oleh data empiris yakni dapat diukur baik secara kuantitatif maupun secara empiris yang memberikan hubungan erat antara fakta konstruk suatu fenomena, di samping mendudukkan pada suatu variabel yang harus didasarkan hukum positif, empiris, dan terukur.
7.    Sesuai dengan kemampuan dan keinginan peneliti, hal ini penting karena ini memberikan motivasi dan kepercayaan diri pada peneliti bahwa pa yang hendak diteliti di lapangan akan berhasil, karena data yang ada di lapangan kemudian peneliti memiliki kemampuan untuk dikumpulkan sehingga dapat dianalisis sampai hasil penelitian dapat diperoleh (Sukardi, 2004).
2.3 Sumber Masalah dalam Penelitian
            Kesulitan dalam mencari masalah akan muncul lantaran tidak adanya formulasi yang pasti dalam hal bagaimana mencari permasalahan penelitian. Oleh karen itu, peniliti dianjurkan untuk selalu bertanya, konsultasi dengan pakar penelitian. Atau dengan kata lain kesulitan itu muncul lantaran kurang tajamnya peneliti dalam melakukan seleksi, dan kurang tajamnya merasakan sesuatu yang dapat dikategorikan sebai permasalahan. Untuk memperkecil hambatan tersebut maka penting bagi peneliti mengetahui sumber- sumber masalah yang sigifikan dan layak untuk di teliti dintara sumber- sumber tersebut adalah:
1.      Literatur, yang meliputi: buku, buku teks, monography, laporan statistik, dan yang berupa non buku seperti; jurnal, skripsi, tesis, desertsi, dan sebagainya.
2.      Berbagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, lokakarya, sarasehan, dan sebagainya.
3.      Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitudinal
4.      Pernyataan dari pemegang otoritas dan
5.      Perasaan intuitif (Balian, 1983, Suryabrata, 1983)
Di samping sumber masalah di atas, masih ada beberapa macam sumber yang dapat membantu peneliti dalam memperoleh permasalahan yang layak dijadikan bahan untuk diteliti, di antara adalah:
1.      Pengalaman seseorang atau kelompok, dimana pengalaman adalah guru yang paling baik
2.      Lapangan tempat peneliti bekerja merupakan tempat di mana seseorang maupun peneliti bekerja merupakan salah satu sumber permasalahan yang baik dan layak\
3.      Laporan hasil penelitian, di samping ada hasil temuan yang baru juga ada kemungkinan penelitian yang direkomendasikan karena berkaitan dengan hasil penelitian yang telah ada, sehingga dari sumber tersebut diperoleh suatu gambaran permasalahan yang baik untuk di teliti.

2.4 Merumuskan Masalah dalam Penelitian
1.      Peneliti sebaiknya mengidentifikasi cakupan luas dari permasalahan tersebut, kemudian dispesifikasikan untuk mencari pakah permasalahan tersebut sering kali muncul dan dapat dinilai secara kasar kemanfaatannya baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan maupun terhadap stakeholder hasil penelitian
2.      Peneliti mempersempit permasalahan sehingga manjadi permasalahan yang dapat diteliti, sesuai dengan kemampuan peneliti untuk melaksanakannya, di samping menghindari adanya kesulitan nantinya dalam mengukura data
3.      Masalah penelitian yang telah diidentifikasi dan dibatasi agar memperoleh masalah yang layak untuk diteliti masih harus dirumuskan agar dapat memberikan arah bagi peneliti secara jelas
4.      Masalah yang telah dirumuskan secara tepat dan benar harus mencakup dan menunjukkan semua variabel maupun hubungan variabel yang satu dengan yang lainnya yang hendak diteliti.
Ada bebrerapa jenis/bentuk perumusan masalah antara lain adalah:
a.    Perumusan masalah menunjukkan rumusan yang jelas, tidak menduakan arti
b.    Pernyataan sebaiknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
c.     Perumusan masalah penelitian dapat bervariasi tergantung pada kesenangan peneliti
d.    Perlu adanya kehati- hatian, jeli, dalam mengevaluasi rumusan masalah penelitian (Sukardi,2004)
e.    Permasalahan haruslah secara tepat dinyatakan agar memungkinkan peneliti untuk memilih fakta yang diperlukan dalam penyelesaian maslah penelitian
f.      Permasalahan itu meski dapat dijawab dengan jelas berapapun jumlah jawaban yang diberikan harus memnuhi persyaratan dan
g.    Setiap jawaban dari permasalahan penelitian harus dapat diuji dan dibuktikan oleh orang lain (Suriasumantri, 1978)
Di samping perumusan masalah penelitian harus jelas juga memiliki kegunaan dan fungsi yang bisa diteliti maka pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti dalam penelitian tidak akan berhasil masuk ke dalam berbagai aspek yang berkedudukan kunci dalam permasalahan yang diteliti (Wignjosoebroto S,1979). Karena itu masalah atau permasalahan yang dapat diteliti memiliki kriteria sebagai berikut: (1) masalah itu memiliki skope yang terbatas, spesifik dan terdiri dari konsep-konsep yang jelas,(2) masalah yang diteliti itu memiliki rujukan empiris, dan(3) masalah itu sendiri memungkinkan untuk diteliti(Emmi Y,1979)
Dengan kriteria yang diungkapkan tersebut menunjukan bahwa masalah atau permasalahan tersebut memenuhi syarat untuk diteliti, karena dalam penelitian ilmiah yang sifatnya empiris hanya terbatas pada penggunaan masalah yang memiliki syarat sebagai terungkap di atas. Proses mematangan konsep dari masalah penelitian sekalipun nampaknya sederhana, namun tetap dibutuhkan adanya penguasaan yang baik terhadap masalah tersebut, sebab pada umumnya yang timbul pada awal mula kali dalam penelitian adalah topik penelitian.
Bila dari perusahaan masalah itu jelas dan dapat diuji oleh orang lain selanjutnya akan dapat melahirkan beberapa jenis tipe penelitian. Tipologi penelitian yang diterapkan juga bermacam-macam pula (Kidder, 1986). Tipologi atau cara-cara yang dimaksud secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Quantitative Research,meliputi: Experimental Research, Expost Facto Research, Survey Research, Evaluation Research, Historical Research,dsb.
2.      Qualitatife Research, meliputi: Grounded Research, Ethnographic Research, dsb (Mouly G.J, 1984
Dari paparan di atas maka dalam rumusan masalah penelitian harus spesifik dan operasional. Di samping itu peneliti harus melengkapi dengan definisi operasional dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah (meskipun tidak ada keharusan) dapat ditulis dalam bentuk kalimat Tanya yang akan dicari jawabanya melalui tindakan yang akan dilakukan. Permasalahan yang diajukan peneliti harus berdampak langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran, pada sumber daya manusiannya,atau pada subyek sasaran yang sedang diteliti.
2.5 Mengembangkan Gagasan dalam Penelitian
Lazimnya ada tiga cara dalam mengawali penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Replikasi, merupakan salah satu cara intuk mendapatkan gagasan awal adalah dengan pendekatan replikasi terutama dalam merancang penelitian dengan lebih tepat dan cepat, guna mengatasi kesulitan yang lebih banyak dihadapi peneliti yang belum banyak pengalamannya. Pengertianya yang cepatdan tepat, replikasi mencakup penemuan dari suatu kajian penelitian yang telah pernah dilakukan atau diteliti kemudia diulangi lagi dengan cara yang sama secara tepat dan benar.
Replikasi merupakan suatu metode yang banyak memberikan faedah karena merupakan metode yang sederhana sekaligus merupakan dasar uji kembali yang tepat bagi semua jenis penelitian. (Traves, 1983).
Adapun cara menemukan model penelitian replikasi adalah:
a.       Pertama pilihlah dari literatur yang ada, ambil kajian tertentu yang patut dikaji ulang
b.      Susunlah desain penelitiannya secara jelas dan terperinci
c.       Bandingkan hasil analisis anda sebagai peneliti pemula dengan hasil analisis terdahulu
2.      Rekomendasi dari Pembimbing, untuk mendapatkan gagasan awal adalah dari pembimbing sendiri. Hal ini merupakan suatu sumber gagasan yang umum dilakukan oleh para mahasiswa pada umumnya, (Balian, 1983). Sesuatu yang perlu diingat bahwa peneliti seharusnya memahami, serta menyukai topik yang diberikan oleh pembimbing. Dengan modal tersebut, kenyataannya tinggal sedikit materi yang harus diperiksa oleh team penguji. Namun demikian harus diingat bahwa bagian metodologi termasuk mengenai analisisnya menjadi tanggung jawab secara keseluruan.
3.      Gagasan Original, model mencari gagasan secara original sering dijumpai dilakukan oleh peneliti yang profesional, ataupun mereka yang tengah belajar penelitian (Best,J., 1983). Adapun cara yang harus diperhatikan oleh mereka adalah: 1) pertama peneliti meninjau literatur dengan suatu gagasan replikasi;2) berawal dari hal tersebut peneliti mengkaji apakah permasalahan  penelitian yang akan diteliti masih cukup relevan untuk diteliti dan adakah pemecahan masalahanya telah mengenai hal- hal yang mendasar; 3) bila memungkinkan pihak peneliti mencari permasalahan yang akan diteliti betul- betul relevan, dan menemukan metode yang setepat mungkin (Kidder, 1986)
Untuk mengembangkan gagasan yang terakhir, perlu kiranya dipertimbangkan oleh peneliti cara- cara menyusun  “lembar pro-kontra” yang lazim dikembangkan di perguruan tinggi yang sudah maju. Kelihatannya cara yang demikian cukup efektif guna mengatasi permasalahan tersebut. (Balian,1983).
Di samping untuk mendapatkan permasalahan yang baik peniliti perlu memikirkan hal- hal sebagai berikut: 1) apa manfaat dari permasalahan yang akan di teliti, bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan. 2) apakah penelitian tersebut cukup managebility, jika ditinjau dari  segi bekal teoritis, biaya, waktu yang tersedia, serta alat- alat perlengkapan yang dimiliki oleh peneliti (Suyabrata, 1983). Karena itu usaha menenmukan permasalahan penelitian secara cepat juga untuk mempertahankan konsep sehingga penting sekali membatasi ruang lingkup permasalahan penelitian sekaligus mengoprasionalkan konsep agar memudahkan pelaksanaan penelitian. Peneliti kadangkala mudah menetapka topik yang akan diteliti, tetapi sulit merumuskan masalahnya secara proposional.
Kurangnya pengertian peneliti terhadap masalah yang diteliti lantaran belum memiliki pengalaman, sebab untuk memahami masalah yang akan di teliti terlebih dahulu peneliti harus banyak membaca, bergaul dengan dunia ilmu, mnguasai berbagai teori ilmu yang erat hubungannya dengan masalahnya. Ilmu itu tidak muncul dari ruang hampa, di mana ilmu itu tumbuh berkembang dalam proses mlingkar, bersifat komulatif yakni penemuan, koreksi, penyempurnaan.....pengetahuan baru, tori, masalah baru dan seterusnya. (Sujana, 1979).
Walaupun dalam merumuskan masalah harus jelas namun tetap di tuntut adanya ketepatan, dan juga harus memiliki kegunaan praktis, memberikan kontribusi kepada dunia ilmu, memberikan manfaat pada pengguna dari hasil penelitian. Itulah sebabnya perumusan masalah oleh peneliti jangan sampai berbeda dengan keinginan pemakai dari hasil penelitian.

















BAB II
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masalah atau disebut juga problem adalah suatu penelitian.Proses mencari jawaban dari permasalahan hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan. Sedangkan masalah atau permasalahan dalam penelitian tak terlepaserat kaitanya dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan suatu yang lumrah terjadi.
Kesulitan dalam mencari masalah akan muncul lantaran tidak adanya formulasi yang pasti dalam hal bagaimana mencari permasalahan penelitian. Untuk memperkecil hambatan tersebut maka penting bagi peneliti mengetahui sumber- sumber masalah yang sigifikan dan layak untuk di teliti dintara sumber- sumber tersebut adalah:
1.      Literatur, yang meliputi: buku, buku teks, monography, laporan statistik, dan yang berupa non buku seperti; jurnal, skripsi, tesis, desertsi, dan sebagainya.
2.      Berbagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, lokakarya, sarasehan, dan sebagainya.
3.      Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitudinal
4.      Pernyataan dari pemegang otoritas dan
5.      Perasaan intuitif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar